Industri Sains Era RI 40

Seminar tentang ” Network Security Dalam Menghadapi Industri 4.0 “
November 6, 2019
SELAYANG PANDANG HASIL MUSYAWARAH IKA FST UIA
November 12, 2019

Dosen MSP-FPIK dan Penelitian Senior

Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut  (PKSPL)IPB

AINS dapat membuka sekaligus membutakan mata manusia kesombongan yang lahir karna menguasai sains dapat membawa kehancuran. Untuk itu, bangunlah dan gunakanan sains dengan bijak agar tidak terjebak pada ilusi pada dunia dan fatamorgana kemajuan karna bisa dari bahwa yang maju iyalah yang menguasai sains dan mempergunakannya untuk kemaslahatan. Untuk menjadi bangsa yang besar Indonesia harus merebut industri sains.

Pengalaman penulis ketika menghadiri sebuah forum internasional kebencanaan di Tanah Air,seorang speaker dari Negara yang tidak memiliki gunung apa begitu fasih menjelaskan sains dan teknologi dari bencana gunung api.

Lebih sedihnya,sains dan teknologi yang diuraikan adalah bagian dari riset  yang dilakukannya di Indonesia.Tidak hanya itu,dengan riset itu peneliti itu mengoleksi informasi lengkap dari Indonesia dan mempelajarinya.Kemudian mengajarkan sebagai materi pada perguruan tingginya.

Kita bisa bayangkan bagaimana sebuah objek tertentu mengandung berjuta pertanyaan yang dapat dijawab dengan sains dan ilmu pengetahuan. Berbagai bentuk inovasi yang dihasilkan ialah publikasi dalam bentuk buku, paper, policy brief, bahkan teori baru.

Dalam banyak negara, sains ialah bagian dari bisnis yang menjanjikan. Kita lihat banyak negara di Eropa tidak memiliki sumber daya yang memadai seperti di negara tropis, tetapi memiliki pusat sains (pendidikan dan riset) tentang tropis yang sangat maju. Pusat sains tersebut kemudian mengembangkan riset, pendidikan, serta inovasi tentang tropical  issue dan resources.

Babak berikutnya, para pemburu sains dari tropical country mengejar hasil riset dan inovasi itu ke negara memproses sains tersebut. Satu yang kita lupa bahwa spirit beasiswa seharusnya ialah sains solution.

Indonesia tidak hanya membutuhkan warga negara yang berstatus PhD atau master lulusan luar negeri , tapi lebih dari itu membutuhkan warga negara yang mampu membangun sains atau mentransfer sains ke Indonesia untuk dijadikan sebagai fondasi dalam memperkuat sains dan pembangunan Indonesia.

Iya, pembangunan berbasis sains, inovasi, dan teknologi ialah bagian dari cita-cita kita menjadi Negara maju. Untuk itu, ke depan pembangunan berbasis sains menjadi indikator utama dalam pembangunan. Solusinya, sains di Indonesia harus digarap dalam bentuk industri yang direncanakan sejak dari hulu sampai hilir, yang akan melahirkan berjuta lapangan kerja bagi berjuta rakyat Indonesia.

Industri sains

 Membangun Industri sains Indonesia tidak terlalu sulit dan juga tidak mudah karena setidaknya kita punya 4 potensi utama. Keempat potensi besar itu kemudian menjadi fondasi pembangunan industri sains Indonesia. Keempat fondasi inilah yang menjadi spirit memajukan ilmu pengetahuan dan sekaligus ekonomi bangsa. Pertama, Negara topis dengan mega biodiversity. Kedua, keberadaan Habbie inspirasi kebangkitan sains. Ketiga, momentum beasiswa dan SDM diaspora. Keempat, keberadaan UU Sistem Nasional Iptek (Sisnas Iptek).

Pertama, kekayaan mega biodiversity ialah sumber kekayaan sains dan iptek. Banyak Negara di dunia saat ini berharap pada biodiversity Negara tropis, baik sebagai sumber pangan, kehidupan, maupun pengendali lingkungan. Sebut saja hutan tropis yang didambakan Negara di dunia sebagai alat kendali perubahan iklim dan biota laut tropis sebagai sumber biomedis masa depan yang menjanjikan.

Berapa banyak inovasi dan teknologi yang kemudian lahir hanya untuk menguak informasi genetik dari biodiversity ? kalau kita perhatikan, semua itu terurai dengan rinci dan detail dalam urutan angka (data). Deskripsi data dan interpretasi yang kemudian kita konsumsi sebagai sebuah sumber informasi dan ilmu baru dalam sebuah paper atau partikel ilmiah.

Berpacu menemukan sesuatu yang baru ialah karakter manusia untuk selalu hadir sebagai seorang pembaru dengan ide, kreativitas, dan gagasan. Semua proses di atas ialah bagian dari proses industrialisasi sainsbagian hulu. Industri sains pada bagian hilir sering kali erat dikaitkan dengan keekonomian yang dapat diperoleh.

Sebuah riset yang menghitung kalkulasi ekomoni riset 1986 (Office Technology Assessment) rate of return basic research mencapai 20%-50% dari investasi public. HERG-OHE-RAND (2008) mengestimasi dampak ekonomi pada biomedical research antara 37%-39% dari GDP (gross domestic product). Bagaimana dengan Indonesia sebagai mega biodiversity? Beberapa besar ekonomi dari pengembangan sains yang bisa kita hasilkan, termasuk di dalamnya berkembangan institusi sains, seperti perguruan tinggi, lembaga riset, Big Data Centre, dan media publikasi? Sebuah pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya.

Kedua, faktor Habbie centris yang merupakan sebuah inspirasi dan fenomena bagi bangsa kita. Jika ditanya, siapa anak bangsa yang mampu membuat, merancang teknologi pesawat, hingga terdirinya BPPT     tentu akan mudah ditemukan jawabannya, ya itu “Habbie”. Habbie tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi beliau ialah milik dunia. Begitu banyak orang di dunia yang mengenal beliau dengan baik karena kepiawaiannya membangun bangsa dengan idealisme sains.

Inspirasi Habbie ini yang dilanjutkan anaknya, Ilham Habbie, yang saat ini dapat kit abaca dari gagasan beliau Iptek, sains, dan teknologi 4.0. keberadaan Habbie ialah bagian awal dari kebangkitan sains kita yang harus dilanjutkan sepenuhnya menjadi industri sians. Ketiga, yaitu keberadaan beasiswa lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP) dan diaspora ialah dua aset yang menjadi kekuatan bangsa yang belum termanfaatkan. Tercatat lebih dari 5000 diaspora yang dapat dioptimalkan bangsa ini. Kekuatan ini makin bertambah dengan dukungan SDM. Dalam proses industri sains kita sudah memiliki modal SDM unggul. Tinggal dimanfaatkan sesuai kebutuhan industri yang dirancang.

Spirit Keempat dari industri sains nasional ialah kehadiran UU Sisnas Iptek. Pesan dari UU Sisnas Iptek Kehadiran Badan Riset Nasional (BRN) yang dak an sich sebagai koordinator administrasi  riset, tetapi sekaligus menjadi pengendali industri riset yang memiliki tugas dari hulu sampai hilir.

Hulunya ialah assessement seluruh kakuatan industri riset, dari proses memetakan dan merencanakan SDM bersama universitas dan di hilir merancang industrialisasi.

Salah satu kunci yang harus diperankan ialah kewajiban industri berpartner dengan universitas atau lembaga riset. Alternatifnya memberikan peluang kepada PTN Badan Hukum untuk lebih inklusif dalam merancang industri berbasis sains. Dengan beban PT yang disampaikan menteri keuangan yang mirip BUMN, izin penggunaan aset untuk industri sains mesti lebih mudah.

Keberadaan UU Sisnak Iptek harus dijadikan momentum sebagai lompatan maju industri sains dan Iptek nasional sehingga menjadi kekuatan bangsa. Tidak saatnya lagi bangsa kita mengekor kepada bangsa lain dalam urusan sains dan Iptek. Saatnya bangkit menjadi Negara dengan kekuatan sains kelas dunia berbasis industri 4.0.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *